Monday, June 17, 2013

Kambing Etawa Terkenal Susunya

Kambing Etawa Jantan

Kambing etawa adalah kambing didatangkan dari India yang juga disebut kambing Jamnapari. 

Kambing Jantan

Tinggi kambing etawa jantan berkisar antara 90 sentimeter hingga 127 sentimeter 
Bobot kambing etawa jantan bisa mencapai 91 kilogram 

Kambing Betina 

Tinggi kambing etawa betina hanya mencapai 92 sentimeter 
Bobot kambing etawa betina hanya mencapai 63 kilogram. 

Ciri-ciri Kambing Etawa : 

Telinganya panjang dan terkulai ke bawah. Dahi dan hidungnya cembung. 
Baik jantan maupun betina bertanduk pendek. 
Kambing jenis ini mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per hari. 

Keturunan silangan (hibrida) kambing etawa dengan kambing lokal dikenal sebagai kambing “Peranakan etawa” atau “PE”. Kambing PE berukuran hampir sama dengan etawa namun lebih adaptif terhadap lingkungan lokal Indonesia








sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kambing_etawa

Friday, June 14, 2013

Panen Kedelai Lebih Cepat Dari Biasanya

KEDELAI ORGANIK




Panen kedelai menjadi lebih cepat dibandingkan dengan biasanya. Mengapa bisa begitu ? Hal ini karena menggukan pola yang berbeda dengan biasanya juga. Pola adalah kebiasaan yang kita lakukan setelah sekian lama secara monoton terus menerus. Bila sudah kebiasaan menjadi pola yang akan sulit sekali kita ubah. Kita akan merasa janggal, merasa aneh merasa takut salah, merasa takut dikucilkan dari masyarakat dan seterusnya merasa-merasa yang lainnya, dan sampai pada merasa takut gagal. 

Hal tersebut diatas merupakan hal yang wajar wajar saja sebagai manusia, yaitu takut adanya kegagalan. Tetapi bagaimana jika ada suatu pola yang sudah teruji dan dibuktikan keberhasilannya, apakah kita juga akan merasa takut gagal juga ? Ada 2 kelompok orang dalam hal ini. Satu kelompok yang masih takut gagal, karena masa lalunya terbawa-bawa sampai kini, dan satu kelompok lagi yang merasa sudah cukup orang lain menjadi pelajarannya sehingga merasa yakin akan keberhasilannya. 

Ada kisah dalam perjalanan bisnis, contohnya perjalanan bisnis ke Papua saja deh. Ada 2 orang yang diutus ke pedalaman Papua untuk survey tentang kebiasaan disana beralas kaki. Kenyataan disana adalah masih banyaknya saudara kita yang belum memakai sandal atau alas kaki. Dari 2 orang utusan tadi membawa kabar berita dan kesimpulan masing-masing. Yang satu mengatakan tidak mungkin berhasil kalau bisa menjual sandal di pedalaman Papua, bagaimana mungkin kebiasaan disana orang-orangnya tidak memakai sanadal. Ini pendapat pertama Tidak Mungkin. Nah bagaimana pula pendapat utusan kedua apakah juga mengatakan hal yang sama?. Ternyata kesimpulan dan pendapatnya bertolak belakang dengan utusan yang pertama tadi. mari kita simak ... ganti alinea aja ya ... :)

Pendapat utusan kedua mengatakan kalau hal ini suatu kebetulan sekali pasti laku jual sandal di pedalaman Papua, bagai mana bisa kata pemberi perintah survey tadi. Sedangkan kata yang pertama tidak mungkin. Inilah letaknya pola pikir, hanya sedkit merobah pola pikir, bisa merubah pola kebiasaan yang sudah bertahun-tahun. Alasan utusan kedua adalah suatu kebetulan karena disana belum ada yang pakai sandal makanya bakalan laku besar, kalau semuanya membeli sandal. Tinggal bagaimana kita memberi sedikit pelajaran tentang bagaimana cara menggunakan sandal untuk kesehatan, untuk kebersihan. 

Kok malahan bicara bisnis sandal ya .... hehehe. Padahal kan kita mau bicara budidaya kedelai ya ....

Tentunya kalau mau panen kedelai lebih cepat dari biasanya, kita harus belajar dulu. 
Bisa kontak saya ada di kontak kami klik disini



Padi Tanpa Pupuk Kimia




Asal tahu cara mengaplikasikan dengan benar, maka pola organic tak kalah kagus dengan kimia, karena pupuk kimia justru merusak struktur tanah. Bahkan kebalikannya dengan pola organik lebih bagus dibandingkan dengan menggunakan pupuk kimia. 

Ada perbedaan tampilan warna daun, dengan pupuk kimia warna daun sangat hijau memang enak dipandang mata, sedangkan warna daun dengan organik akan kelihatan kurang hijau, kelihatan hijau muda. Tapi tidak perlu khawatirkan tentang hijau daun tadi.

Daun dengan pupuk kimia akan cepat layu dan mengering sebelum padi tua, sedangkan dengan pupuk organic akan sebaliknya, warna daun akan tetap seperti semula sampai padi menguning dan tua sampai dipanen.

Thursday, June 13, 2013

Asal Kebangsaan Para Kambing

Bangsa-bangsa ternak kambing

1). Kambing Kacang

Merupakan kambing lokal asli indonesia. Tumbuh relatif kecil, kepala ringan dan kecil, telinga pendek tegak lurus mengarah ke depan atas. Memiliki daya adaptasi dan reproduksi yang digolongkan tinggi dengan berat dewasa rata-rata 17-30 kg. Pada umumnya memiliki bulu pendek pada seluruh tubuh, kecuali pada ekor dan dagu, sedangkan pada jantan tumbuh bulu panjang di sepanjang garis leher. Warna bulu kambing ini antara putih, hitam, coklat atau campuran ketiganya. Selain di Indonesia kambing ini terdapat juga negara Asean lainnya seperti di Filipina, Myanmar, Thailand, Malaysia dan sekitarnya. Produksi susu kambing ini sebanyak 0,5 liter per hari dan merupakan sumber daging yang potensial.

2). Kambing Etawa

Berasal dari daerah Jumnapari, India. Kepala mirip dengan domba jantan, hidung melengkung, rahang bawah lebih menonjol, daun telinga panjang dan lebar terkulai ke bawah. Pada jantan maupun betina memiliki tanduk yang mengarah agak ke belakang dan ke samping, dan pada umumnya memiliki gelambir atau lipatan kulit yang melebar dan terdapat pada sepanjang bagian bawah leher. Bangsa kambing ini tergolong tipe dwiguna atau penghasil daging dan susu. Bobot dewasa rataan sekitar 40 – 70 kg dengan produksi susu mencapai 1 – 3 liter per hari dengan warna bulu bervariasi, campuran hitam, putih atau coklat..

3). Kambing Peranakan Etawa

Kambing ini persilangan antara kambing kacang dengan etawah sehingga memiliki sifat campuran seperti : hidung agak melengkung, telinga agak besar dan terkulai. Berat dewasa mencapai 32 – 37 kg dengan produksi susu 1 – 1,5 liter per hari. Kambing jantan dan betina dewasa pada tipe ini memiliki keunikan yang apabila dicampurkan akan timbul keributan/kegaduhan.




4). Kambing Saanen

Merupakan kambing yang berasal dari lembah Saanen, Swiss. Kambing ini tidak memiliki tanduk, dengan dahi lebar, telinga sedang dan tegak dengan posisi kaki terlihat lurus dan kuat, serta kepala seimbang. Berat tubuh jantan dewasa mencapai 80 –120 kg sedangkan betina mencapai 50 – 90 kg dengan produksi susu 4 - 4,5 liter/hari. Warna bulu pada kambing ini adalah putih mulus terkadang terdapat bercak hitam pada hidung, telinga dan ambing.

5). Kambing Kashmir

Merupakan kambing yang berasal dari Tibet. Kambing ini baik jantan maupun betina memiliki tanduk yang tumbuh subur. Kambing kashmir memiliki telinga panjang dan lebar yang terkulai, kepala besar, mata kecil dan leher pendek dengan berat 60 kg serta memiliki bulu yang pada umumnya berwarna abu-abu dan sangat halus disebut mohair yang merupakan bahan baku permadani. Bulu pada wajah, telinga dan dahi ditumbuhi bulu pendek sedangkan bagian tubuh yang lain ditumbuhi bulu penutup yang lebih panjang.

6). Kambing Angora

Merupakan kambing yang berasal dari Turki. Kambing ini baik jantan maupun betina memiliki tanduk yang mengarah ke belakang dan ke samping. Kambing angora memiliki telinga tipis - panjang terkulai ke samping bawah, kepala besar, dengan berat 55 – 80 kg pada jantan dan betina 35 – 45 kg, serta memiliki bulu mohair berwarna putih yang dapat mencapai 2 kg per tahun.

7). Kambing Toggenburg

Merupakan bangsa kambing yang berasal dari lembah Toggenburg, Swiss. Kambing ini tidak memiliki tanduk, bertelinga besar, dan berdiri tegak.. Betina memiliki ambing yang sangat besar dan merupakan penghasil susu yang baik. Berat tubuh kambing dewasa rata-rata adalah 60 kg dengan warna bulu cokelat dengan warna putih mulai dari daerah mulut sampai daun telinga, keempat bagian bawah kaki serta di pangkal ekor.

8). Kambing Marica

Merupakan bangsa kambing yang mirip kambing kacang dan banyak terdapat di Sulawesi, Indonesia. Tubuhnya relatif kecil dengan berat dewasa rata-rata baik jantan maupun betina 25 kg. Walaupun tubuhnya kecil namun seperti halnya kambing kacang, memiliki daya adaptasi yang tinggi, begitu pula fertilitasnya.

9). Kambing Gembrong

Merupakan bangsa kambing yang berasal dari pantai timur Bali, Indonesia. Tubuhnya sedang-sedang saja, diantara kambing kacang dan etawah. Kambing ini bertanduk baik pada jantan maupun betina, tetapi pada jantan tanduk tersebut lebih panjang dan berkelok serta memiliki jumbai pada dahinya yang terkadang sampai menutupi mata dan mukanya. Kambing ini memiliki profil muka yang lurus, agak cekung, bulu panjang dan halus tumbuh diseluruh tubuhnya, berjanggut panjang terutama pada jantan.

10). Kambing Nubian

Merupakan bangsa kambing yang berasal dari daerah Nubia, Afrika. Kambing ini tidak memiliki tanduk, berbulu hitam, merah dan putih serta telinga yang terkulai. Pada kambing jantan terdapat jenggot.

11). Kambing Anglo-Nubian

Merupakan bangsa kambing yang berasal dari persilangan kambing nubian dengan kambing yang berasal dari inggris dan memiliki ciri khas yang hampir sama dengan kambing nubian.

Sumber : kampoeng-ternak.150m.com

Wednesday, June 12, 2013

Cara Membuat Bhokasi - Pupuk Kompos Hasil Fermentasi

MEMBUAT BHOKASI

Dalam pertanian organik tentu saja tidak bisa terlepas dari BHOKASI. Bhokasi merupakan menu wajib yang tidak boleh ditinggalkan dalam pertanian organik.
Bhokasi  adalah pupuk kompos yang dihasilkan dari proses fermentasi atau peragian bahan organik dengan teknologi mikroba matrik/ mikroorganisme. Keunggulan penggunaan teknologi MIKROBA MATRIK adalah pupuk organik (kompos) dapat dihasilkan dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional.

Untuk teknologi mikroba matrik disini saya menggunakan SOT(SUPLEMEN ORGANIK CAIR) dari HCS. SOT sendiri merupakan salah satu jenis pupuk organik yang mengandung lima puluh dua mikroba laktogen yang berfungsi sebagai penyubur, pembenah, dan penyehat tanah. Juga terdapat unsur hara makro dan mikro yang seimbang untuk tanaman, senyawa bioaktif, hormon pertumbuhan, vitamin dan hara esensial bagi tanaman juga mengandung anti hama.

Bahan untuk pembuatan bokashi dapat diperoleh  dengan mudah di sekitar lahan pertanian, seperti jerami, rumput, tanaman kacangan, sekam,  pupuk kandang atau serbuk gergajian. Namun bahan yang paling baik digunakan sebagai bahan pembuatan bokashi adalah
dedak karena mengandung zat gizi yang sangat baik untuk mikroorganisme.

Bagaimana cara membuat bhokasi ? nah langsung saja di simak..




Bokashi POLA HCS

1. Bahan bahan :
        1.  800kg    KoHe ( Kotoran Hewan yang sudah menggunakan Pola Ternak HCS/ Pakan    Fermentasi).
        2.   50kg    Dolomit.
        3.   50kg    Katul/Dedak.
        4.  150kg   Sekam/Brambut/Gergajian Kayu Sengon/Abu Sekam.
        5.   0.25kg   Gula pasir ( diencerkan ).
        6.   2L    Suplemen Organik Tanaman HCS ( 4botol ).

2. Semua bahan dicampur merata.
3. di beri Air dicampurkan sampai mammel/ngepyur/setengah basah.
4. ditutup/difermentasikan dalam drum/gentong/terpal selama 3hari ( 3x24jam ).
5. didinginkan.
6. digunakan/disebarkan dilahan anda.

Untk KoHe Non HCS

Harus diolah dahulu karena polar tinggi (menyebabkan gatal), bibit uret/orong2, bibit rumput dan bakteri penyakit lainya terdapat di KoHe non HCS tersebut.  
dengan cara :

        1. 800kg    KoHe non HCS
        2.      3L     PHEFOC ( tututp putih )
        3.   3sdm   Gula yang diencerkan

        Bahan2 tersebut ditambahkan Air sampai mammel/ngepyur/setengah basah.
        ditutup/difermentasikan dalam drum/gentong/terpal selama 1hari ( 24jam ).


Catatan
Ciri ciri Fermentasi yang berhasil adalah menghasilkan panas +/- 40 derajat Celcius

Saturday, June 1, 2013

Sukses Budidaya Jahe di Polybag, Bisa Gajian Tiap Bulan

Memilih tanaman budidaya yang tepat memang sangat berpengaruh pada hasil dan keuntungan yang akan didapat, namun jika terlalu lama memilih tanaman yang tepat maka keuntungan yang diharap akan terlewat karena musim, dan harga biasanya berkaitan, dimana musim yang kurang mendukung harga komoditi tertentu mencapai harga tertinggi, dan sebaliknya saat musim baik dan banyak orang berbudidaya biasanya hargapun juga turun hal ini sesuai dengan hukum ekonomi. Untuk mencegah hal itu terjadi, maka Petani tak perlu tunggu musim atau rame- rame menanam, sehingga tidak lagi terjadi “panen massal”, dengan demikian tak perlu terjadi penurunan harga dikarenakan terlalu banyak stok dan menurunnya jumlah permintaan. 


            Kita tentukan saja pilihan kita kali ini pada tanaman budidaya Jahe Merah. Tanaman ini tak terlalu sulit dalam berbudidayanya. Cukup di sela-sela tanaman pokok (sengon, kopi, atau tanaman buah-buahan ), Media tanam bisa menggunakan Karung/Glangsing/Polybag yang telah diisi Bokashi dan tanah dengan perbandingan 1: 3. Pengisian media tanam awalnya hanya perlu diisi setinggi kira-kira 15 cm.

            Sebagai pertimbangan nilai ekonomi Polybag yang diisi 2 - 3 tunas bibit Jahe seharga Rp. 500,-  dalam waktu 8 - 10 bulan bisa berkembang menjadi 20 kg. (jika menggunakan cara konvensional, estimasi 1 rumpon hanya kisaran 2 kg). Misalnya estimasi harga ± Rp 25.000 –  Rp. 40.000, maka per polybag dapat menghasilkan Rp. 500.000,- sampai Rp. 800.000,-. Jika Anda mempunyai 100 polybag saja maka estimasi Hasil kotor yang anda peroleh adalah Rp. 50.000.000,- sampai Rp. 80.000.000,- Sebuah keuntungan yang sangat fantastis bukan…??? Itulah potensi keuntungan yang bisa kita dapatkan, tentu dengan POLA HCS, bukan Pola Konvensional. 



            Dengan perawatan sangat sederhana yakni pemupukan berkala dengan Bokashi dan SOT HCS yang dikocorkan maupun disemprot pada bibit yang ditanam, penyemprotan dan pengocoran SOT hanya perlu dilakukan 2 minggu sekali dan penambahan Bokashi dilakukan seiring pertumbuhan tunas sampai Polybag terisi dengan ketinggian 80%. Setelah Polybag terisi Tanah dan Bokashi, maka yang dilakukan tinggal perawatan sampai panen, antara 8 – 10 bulan.

            Dan seandainya semua mau bergerak memanfaatkan tanah kosong , di pot-pot, polybag, atau pekarangan kita yang tersisa, meskipun tak begitu luas seperti program pemerintah ‘Apotik Hidup’ beberapa tahun lalu, maka kampung tempat kita tinggalpun akan mampu swasembada Jahe, bahkan tak menutup kemungkinan menembus pasar dunia.


PEMBIBITAN :
Untuk bibit jahe yang sudah siap tanam / atau yang sudah bertunas skitar 5-10 cm, namun jika susah memperoleh bibit tunas kita bisa menyemai sendiri bibit jahe yang akan ditanam. Ada beberapa teknik penyemaian. Disini saya bahas salah satunya saja yaitu penyemaian jahe dalam kotak kayu.

Rimpang jahe yang baru dipanen dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan dijemur ulang 1/2-1 hari. Selanjutnya sebelum disemai bibit harus dibebaskan dari virus penyakit dengan cara potongan bakal bibit tersebut dikemas ke dalam karung  lalu dicelupkan dalam larutan PHEFOC selama 15 menit lalu keringkan. (Larutkan 1 tutup PHEFOC ke dalam 14 liter air, tambahkan 2 sendok makan gula pasir, diamkan selama 15 menit, larutan PHEFOC telah siap untuk digunakan).

Rendam kembali dengan zat pengatur tumbuh SOT sekitar 6 jam. ( Larutkan 5 tutup SOT dengan 14 liter air, tambah 2-3 sendok makan gula pasir, diamkan terlebih dahulu selama 15 menit), larutan siap digunakan. Setelah perendaman lalu tiriskan sampe kering. Benih telah siap disemaikan.
 
Lakukan cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut: isi kotak kayu dengan tanah+bokashi 3:1 lalu benamkan rimpang jahe tutup dgn tanh/daun kering tipis-tipis, rawat dengan menyirami 2x sehari.Setelah 2-4 minggu lagi, bibit jahe tersebut sudah siap dipindah ke karung/polibag/keranjang tanam

PENANAMAN 
siapkan alat dan bahan :          - cangkul / sekop (untuk mengaduk)
                                                - karung / polibag / keranjang (pakai yg bekas )
                                                - ember
                                                - bokashi
                                                - tanah
Ambil rimpang jahe dari kotak penyemaian kemudian patah-patahkan dengan tangan rimpang jahe tersebut menjadi 2 - 3 ruas, dimana 1 ruasnya terdapat minimal 2 mata tunas. 
Lalu buat campuran antara tanah dan bokashi dengan perbandingan 3:1 . Masukkan campuran tanah dan bokashi ke dalam karung/polibag/keranjang dengan ketinggian sekitar 15cm , jika menggunakan media karung sesuaikan terlebih dahulu tinggi karung dengan cara menekuk bagian atas karung seperti gambar paling atas agar ketinggian sesuai.
kemudian masukan tunas bibit jahenya, ( satu karung bisa diisi sekitar 3-4 titik tanam  untuk hasil yang maksimal)
Setelah selesai penanaman keseluruhan siram dengan air . Selama sekitar seminggu lakukan penyiraman rutin pagi dan sore agar tunas tidak layu/ kering.

PERAWATAN / PEMUPUKAN


Sirami tiap hari minimal sehari sekali, tapi jika cuaca panas atau musim kemarau sebaiknya siram 2 x sehari.

Sekitar usia 2-4 minggu lakukan pengocoran dengan fermentasi SOT.
(SOT 5 tutup, Gula 3 sendok makan, Urine 2 liter, Feses 2 liter, difermentasi 24 jam). setelah fermentasi jadi campur dengan 15 liter air lalu gunakan untuk mengocor/ menyiram.
Lakukan penyemprotan dengan SOT dan PHEFOC secara bergantian dengan interval 2minggu-4 minggu sekali.
(bahan untuk menyemprot SOT/PHEFOC 5 tutup, Gula 3sendok, bisa ditambah urine 0,5 liter fermentasi 24jam) kemudian campur air 1 tangki dan siap disemprotkan.

Lakukan pengurukan kembali dengan tanah + bokashi (3:1) pada usia 2-3 bulan atau jika terlihat rimpang jahe yang menyembul keluar timbun/uruk sekitar 10cm. 

Lakukan pengurukan ini berulang-ulang seiring pertumbuhan jahe hingga usia sekitar 8 bulan atau sampai karung /polibeg / keranjang terisi penuh dengan tanah urukan.

Dengan teknik pengurukan seperti ini kita akan mendapatkan hasil yang lumayan melimpah, karung /polibag/keranjang kita akan terisi penuh dengan rimpang jahe.

bahkan ada salah satu mitra HCS yang panen jahe satu karung/polibag/keranjang berisi 20kg jahe wooww....dahsyat bukan...???.
Jika langkah-langkah diatas sudah kita lalui selama 8-10 bulan, sudah saatnya jahe kita siap dipanen.
 
 GAJIAN TIAP BULAN.
 Banyak orang beranggapan "bertani itu tidak bisa memberi penghasilan tiap bulannya", Bertani hanya memberi penghasilan pas pada waktu panen saja. Menurut saya anggapan ini 100% salah, buang jauh2  tuh anggapan seperti itu.
Bagaimana cara mempunyai penghasilan tiap bulannya dari bertani disini kita akan membahasnya. 
Ya salah satunya dengan cara menanam jahe dengan media karung/glangsing/polibag.

Caranya tiap bulannya kita musti tanam jahe ya misal 20-40 polibag/karung. Jadi diawal tiap bulannya kita tanam jahe. Contoh misal bulan january minggu awal kita tanam 40 polibag/karung jahe, maka bulan february di minggu awal berikutnya kita tanam lagi 40 polibag/karung, begitu juga bulan maret dan bulan-bulan berikutnya. 

Kalau tanam terus kapan panennya hehe..??
Biasanya jahe sudah bisa dipanen di usia 8-10 bulan, lebih baik kwalitasnya jika panen di usia 10 bulan saja supaya jahe matang tua sempurna. Jadi untuk jahe yang kita tanam di bulan january kita panennya di bulan november awal, bulan february panen di bulan desember, maret panen di january, begitu seterusnya sehingga mulai bulan november sampai kedepan kita akan mempunyai penghasilan tiap bulannya dari hasil bertani.
Untuk skema tanam dan waktu panen bisa dilihat dari tabel di bawah ini.
Waktu Tanam
Jumlah Tanam
Waktu Panen
January
40 karung
November
February
40 Karung
Desember
Maret
40 Karung
January
April
40 karung
February
Mei
40 karung
Maret
Juny
40 karung
April
July
40 karung
Mey
agustus
40 karung
Juny
September
40 karung
July
Oktober
40 karung
Agustus
November
40 karung
September
Desember
40 karung
Oktober

Hitung-hitunganya gimana? berapa rupiah yang kemungkinan bisa kita hasilkan tiap bulan.

Modal Tiap bulannya :

Bibit jahe 40 rimpang x Rp.1.000,-     Rp.40.000 === > ( sekitar 1,5 - 2 kg jahe )

Polibag/karung 40 x Rp.1.500             Rp.60.000

Pupuk SOT dan Phefoc                        Rp.70.000
TOTAL                                             Rp.170.000,- 

Hasil tiap bulannya :                            
      Tanam jahe media karung dengan pola HCS bisa menghasilkan 10-20kg tiap polibag/karungnya. Tapi disini kita ambil contoh hasil terendah saja misalkan saja 1 polibag/karung menghasilkan 5 kg jahe dan harga jual per kilo jahe Rp.15.000.

Maka :   40 karung x 5kg                 200kg

               200kg x Rp.15.000           
Rp.3.000.000

Jadi bisa kita ketahui nantinya mulai bulan november sampai terus kedepan kita akan mendapat penghasilan Rp. 3.000.000. hasil ini bisa lebih jika hasil panen kita bisa maksimal dan harga jual jahe naik. 
Semoga saja artikel ini bermanfaat.
Bagaimana..Siap Menerima Tantangan…???
GO….SUCCESS…!!
Sumber artikel dan foto : http://jahehcs.tk/

Sunday, May 12, 2013

AIR UNTUK TERNAK

Penyediaan air yang cukup dan berkualitas, sangat penting bagi peternakan. Air membentuk 80% darah, mengatur suhu tubuh dan sangat penting untuk fungsi organ seperti pencernaan, pembuangan limbah dan penyerapan nutrisi. 

Memahami kebutuhan air untuk ternak sehari-hari adalah kunci ketika merancang sebuah sistem pemberian minum ternak.

Kebutuhan air sehari-hari ternak bervariasi antara spesies hewan. Ukuran hewan dan tahap pertumbuhan akan memiliki pengaruh yang kuat pada asupan air setiap hari. Tingkat konsumsi dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan manajemen. Suhu udara, kelembaban relatif dan tingkat tenaga hewan atau tingkat produksi adalah contoh dari faktor-faktor ini. Kualitas air, yang meliputi suhu, salinitasi dan kotoran yang mempengaruhi rasa dan bau, juga akan berpengaruh. Kadar air dari diet hewan akan mempengaruhi kebiasaan minumnya. Pakan dengan kadar air relatif tinggi mengurangi kuantitas air minum yang dibutuhkan. 
Berikut beberapa contoh kebutuhan air untuk hewan ternak tertentu


Sapi perah

Susu terdiri dari hampir 87% air. Pasokan air yang berkualitas yang cukup sangat penting. Petani biasanya menyediakan sapi dengan akses mudah ke air segar setiap saat. Kebutuhan air sapi erat kaitannya dengan produksi laktasi. Puncak asupan air pada sapi umumnya terjadi selama jam konsumsi pakan terbesar.

Sapi Potong

Begitu pula sapi potong, asupan air yang baik berkisar 7-10% berat badan per hari. ini dipengaruhi oleh suhu udara dan kelembaban.

Domba dan /kambing

domba kambing dan sejenisnya pada musim dingin/hujan kebutuhan air sangat sedikit. Namun perlu diketahui bahwa kambing atau domba terutama yang di gemukkan dengan sistem penangkaran wajib tersedia air setiap saat. Kecuali di gembalakan dan dekat dengan sumber air.


Unggas

Unggas seperti ayam, bebek dan burung hampir setengahnya mendapatkan asupan air dari pakan yang dikonsumsinya, karena
sistem pencernaanya memang memiliki struktur yang berbeda dengan hewan ruminasia. 

Suhu udara melebihi 30 ° C atau (87 ° F), konsumsi airnya dapat meningkat sebesar 50% di atas tingkat konsumsi normal. Unggas, tidak dapat berkeringat. Sebagai sarana mengatur suhu tubuh. Metode mereka kontrol panas melibatkan meningkatkan laju pernapasan (terengah-engah) untuk mengusir kelebihan panas, yang menghasilkan pelepasan sejumlah besar uap air dari burung yang harus diganti atau burung akan mengalami dehidrasi.

KUALITAS AIR

Kualitas air juga penting untuk dipertimbangkan karena dapat berdampak pada volume air yang dikonsumsi. Misalnya, Bau busuk atau tidak sedap dapat mencegah hewan enggan untuk minum. Tergantung pada penyebabnya, kualitas air yang buruk dapat mempengaruhi kesehatan kawanan, mungkin menyebabkan kematian hewan dan tentunya kerugian ekonomi bagi pemiliknya

Menilai kualitas air di kedua titik penggunaan dan sumber. Kontaminasi akibat debu, tumpah pakan dan kotoran dapat menyebabkan pertumbuhan lendir. Akhirnya organisme mati dan membusuk lalu berlendir. Lendir ini, menimbulkan bau busuk dan dapat mengganggu selera makan.

Biasanya, unggas lebih sensitif terhadap rasa dan kandungan mineral air dibandingkan jenis ternak lainnya. Maka perlu system pengairan yang bagus.

Toleransi terhadap mineral (jumlah garam) dalam pasokan air juga bervariasi tergantung jenis hewan. Unggas sensitif, dan ruminansia hewan paling sensitif. Secara umum, total kandungan garam terlarut:
  1. Kurang dari 1.000 mg / L dianggap rendahnya tingkat salinitas cocok untuk semua jenis ternak.
  2. Kandungan garam 1.000 mg / L dan 3.000 mg / L dapat memuaskan untuk semua jenis ternak tetapi dapat menyebabkan kotoran berair pada unggas atau diare pada ternak tidak yang tidak terbiasa diberi garam.
  3. Kadar garam di atas 3.000 mg / L tidak dianjurkan untuk unggas dan ternak ruminasia.
  4. Kadar garam  5.000 mg / L tidak dianjurkan untuk hewan menyusui.
  5. Hindari tingkat di atas 7.000 mg / L untuk semua ternak
Air yang menggunakan prebiotik SOC adalah air berkualitas yang mampu membantu menyehatkan ternak, meningkatkan kualitas makan. Demikian semoga ilmu ini semoga bermanfaat  

Mau tahu caranya? 


INFO PAK JOYO
6287856041543


BACA JUGA PENGGEMUKAN KAMBING GIBAS KLIK

Bantu kami menyebarluaskan ilmu ini semoga bisa menjadi amal kebaikan bagi anda dengan menshare ke media sosial dibawah ini. Terimakasih